Forsmunsa Sukoharjo
14Nov/11Off

Meraih Kemuliaan Hidup dengan Zuhud

Bismillah…

cash advance prepaid debit

finding one hour payday loan lenders

easy approval payday loans no credit check

Segala puji hanya bagi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Dzat pemilik seluruh keutamaaan dan keagungan. Seandainya kita mampu memujinya dengan sejumlah gugusan bintang yang bertebaran di angkasa dan segenap makhluk yang ada di alam raya maka ini belum

sebanding dengan segala nikmat yang telah kita terima. Kemudian kita memohon pertolongan dan ampunan  kepada-Nya atas lemahnya jiwa dan  atas buruknya amalan kita. Barang siapa yang telah dikehendaki oleh-Nya hidayah maka tiada seorangpun yang mampu menyesatkannya dan barang siapa yang dikendaki oleh-Nya kesesatan maka tiada orangpun yang kuasa menunjukinya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada suri teladan Kita Nabi Muhamad Shalallahu 'Alaihi Wasallam. Serta atas keluaraganya, sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa tegar di atas sunnahnya hingga yaumil akhir kelak.

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan alam seisinya dengan penuh kesempurnaan-Nya bukanlah untuk disia-siakan dan dibiarkan begitu saja. Akan tetapi bahkan semuanya akan dimintai pertanggung jawaban, sebagaimana yang Alloh Subhanahu Wa Ta'ala firmankan:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawaban. (QS Al Israa : 36)

Dan tidaklah  Alloh menciptakan kita di dunia ini melainkan untuk beribadah kepada-Nya yaitu dengan mentauhidkan-Nya dan membebaskan diri dari kesyirikan.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus..” (Qs Al Bayyinah : 5)

Maka sungguh celaka orang yang terlena dengan kehidupan dunianya, dan sungguh merugi orang yang hanya memahami hidupnya untuk tujuan dunia yang fana ini. Karena kelak dia akan menemui suatu hari manakala penyesalan tak lagi mampu memberi arti, manakala anak, harta, pangkat, kedudukan tak lagi mampu menjadi pembela diri. Dan lihatlah penyesalan orang-orang yang begiu cepat dunia berlalu darinya namun tiada bekal sedikitpun yang dia dapatkan.

أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَى علَى مَا فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ

"Duhai amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku Sesungguhnya Termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). (QS Az Zumar : 56)

Karena kala itu hanya amal ketaqwaan yang mampu menjadi hujjah dan pembela bagi makhluk di hadapan Rabb-nya Yang Maha Teliti dan hanya yang berserah diri dan dengan hati yang salim yang mampu melalui murkanya.

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ -٨٨ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ -٨٩

“Adalah hari yang mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat”. (QS. Asy Syu’ara : 88-89)

Sehingga jelaslah bagi kita parameter keberhasilan kehidupan seorang hamba bukanlah dilihat dari perkara dunianya, akan tetapi sejauh mana dia menggunakan hidupnya di dunia ini dalam bartaqwa kepada Rabb-nya dan istiqomah di dalamnya. Bahkan kita saksikan bagaimana teladan dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dan kisah-kisah  kehidupan generasi terbaik umat ini, para Salafush sholih, mereka hidup dengan penuh kesederhanaan dan zuhud dari kehidupan dunia. Mereka tidak tersilaukan dengan gemerlapnya dan indahnya fatamorgana kehidupan dunia. Akan tetapi bahkan mereka menggunakan dunia ini sebagai sarana untuk beribadah dan mencukupkan diri atas karunia-Nya.

Semoga kita tidak terlena dengan kehidupan dunia yang mampu memfitnah manusia sehingga melalaikannya akan kehidupan yang lebih kekal. Karena pada dasarnya dunia memang dijadikan indah pada pandangan manusia.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ

الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS Ali Imran : 14)

Dan tahukah kita apakah  gerangan yang menjadi kunci keberhasilan generasi terbaik umat ini, sehingga menghantarkan mereka kepada keridhoan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala?? Hal itu diantaranya adalah adanya sikap zuhud pada diri-diri mereka. Dan betapa banyak manusia pada akhir zaman ini yang melupakan dan melalaikan diri dari hal ini. Oleh karena itu kiranya sangat pantas bagi kita untuk   kembali mendalami zuhud jika kita mengaku ingin menjadi umat yang berhasil dalam kehidupan kita. Ilmu yang akan menghantarkan manusia ke gerbang zuhud adalah ilmu tentang betapa hinanya sesuatu yang ditinggalkan jika dibanding dengan sesuatu yang diambil. Diantaranya  yaitu dengan menimba ilmu dari para ulama terkait tentang zuhud sebagaimana yang akan kita sajikan pada pembahasan berikut ini, Insyaa Alloh.

Pengertian Zuhud

Secara bahasa zuhud adalah berpaling dari sesuatu karena keremehan dan kehinaannya. Zuhud adalah berpalingnya keinginan terhadap sesuatu kepada keiginan yang lebih baik darinya. Yunus bin Maisyarah berkata, “Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan pula membuang harta, akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah kamu lebih yakin kepada apa yang ada di tangan Alloh dari apa yang di tanganmu.”

Perkara Yang Harus Diperhatikan dalam Zuhud

Pertama, hendaknya kita lebih yakin dan lebih percaya kepada apa yang ada di Tangan Alloh dari pada apa yang ada di tangan kita. Karena ini adalah buah dari keyakinan yang benar dan kuat.

Abu Hazim –yang terkenal dengan kezuhudannya- pernah ditanya, “Apa saja harta milik anda?” Beliau menjawab, “Hartaku ada dua. Aku tidak takut faqir selama memilikinya. Yaitu tsiqqah (yakin dan percaya) kepada Alloh dan tidak mengharapkan apa yang dimiliki manusia.” Seorang sahabat bernama ‘Ammar berkata, “Cukuplah kematian itu sebagai peringatan, cukuplah keyakinan yang kukuh itu menjadi kekayaan, dan cukuplah ibadah itu menjadi kesibukan.”

Ibnu Mas’ud

how to get your ex back

m>Radhiyallahu 'Anhu menjelaskan, ”Yang dimaksud dengan yakin adalah kamu tidak mencari ridho manusia dengan kemurkaan Alloh, tidak dengki kepada manusia karana rezki Alloh atasnya, dan tidak mencela seseorang karena kamu tidak diberi oleh Alloh. Sesungguhnya rezki Alloh itu tidak dikendalikan oleh ketamakan orang yang tamak, dan tidak pula ditolak oleh ketidaksukaan seseorang. Dengan keadilan, ilmu dan hikmahNya, Alloh menjadikan ketenangan dan kegembiraan itu pada yakin dan ridha, serta menjadikan kegelisahan dan kesedihan pada kemarahan dan keraguan.”

Kedua, hendaknya seseorang itu lebih mengharapkan pahala atas pahala yang menimpa, daripada menyesali dari akan hilangnya atau tetap utuhnya barang-barang itu ditangan-nya. Karena ini juga adalah buah kesempurnaan yakin.

Ali Radhiyallahu 'Anhu pernah berkata. “Barang siapa yang zuhud terhadap dunia maka akan terasa ringanlah musibah yang menimpa“. Dan sebagian salafush sholih berkata, ”Kalaulah bukan karena musibah dunia yang menimpa, pastilah kita memasuki akhirat dengan pailit“.

Ketiga, hendaknya memandang orang yang memuji dan mencelanya dengan sikap yang sama. Maksudnya yaitu dengan hanya mengharapkan balasan dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tanpa memperdulikan celaan maupun pujian manusia atasnya. Karena kebanyakan orang yang mencintai dunianya maka dia mencari pujian dari manusia dan membenci celaan. Padahal boleh jadi celaan atasnya lebih menyelamatkannya dari pada tatkala dia terbuai dalam sanjungan dan pujian.

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah memuji hambanya yang berjijhad di jalan-Nya dan tidak takut akan celaan orang-orang yang mencela. Hasan Al Bashriy pernah bertutur, “Seorang yang zuhud adalah yang ketika official canadian pharmacy melihat seseorang dia womens viagra pill mengatakan, dia lebih zuhud daripada diriku.

Sesungguhnya zuhud itu adalah atas apa yang dimampui saja, Imam Ahmad ketika ditanya tentang seseorang yang memiliki harta yang banyak, apakah orang itu bisa berzuhud? Beliau menjawab, “Apabila dia tidak bangga apabila harta itu bertambah dan tidak sedih kala harta itu berkurang maka dia adalah orang yang zuhud.”

Kemuliaan dan Pujian Atas Sikap Zuhud Serta Kehinaan dan Celaan Atas Meninggalkan Zuhud

Sahl bin Sa’d As Sa’idiy berkata, seseorang menemui Rasululloh Shalallahu 'Alaihi Wasallam dan bertanya, wahai Rasululloh, tunjukkan padaku suatu amalan, yang jika aku mengerjakannya dicintai oleh Alloh dan dicintai pula oleh manusia. Rasulullah menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia niscaya kamu akan dicintai Alloh. Zuhudlah terhadap apa yang ada pada sisi manusia niscaya engkau akan dicintai meraka.” (HR Ibnu Majah)

Hadist ini menunjukkan bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memuji dan mencintai  orang-orang yang zuhud terhadap dunia. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala juga memberikan janji pada orang-orang yang rela menukar kehidupan dunia di atas ketaatan dengan pahala yang besar.

فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالآخِرَةِ وَمَن يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيُقْتَلْ أَو يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً

“Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.” (QS An Nisa’ :74)

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berjanji akan menambahkan keuntungan bagi hambanya yang menginginkan keuntungan akhirat yaitu tatkala dia zuhud atas dunia untuk menggapai keutamaan.

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ

“Barang siapa yang menghendaki Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan can i buy viagra itu baginya dan barang siapa yang menghendaki Keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat“. (Asy Syuura : 20)

Dan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala mencela dan menyindir manusia yang hanya memilih dunia yang hina dan tidak kekal.

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا -١٦ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى -١٧

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa : 16-17)

... تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللّهُ يُرِيدُ الآخِرَةَ وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“...Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha

Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Anfaal : 67)

... وَيَقَدِرُ وَفَرِحُواْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مَتَاعٌ

"Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, Padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (QS. Ar Ra’du : 26)

Dan masih banyak lagi anjuran beserta pujian bagi hamba yang zuhud atas dunianya dan celaan bagi orang yang meninggalkannya. Ahirnya kita hanya memohon kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala agar senantiasa diberi taufik dan hidayah sehingga kita dapat meraih kemenangan dan keuntungan di dunia sebagai bekal kehidupan di akhirat dengan diberi kekuatan zuhud atas dunia dan istiqomah di atasnya.

Semoga pembahasan yang singkat ini bermanfaat, apabila ada kebenaran itu datangnya dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan apabila ada kekurangan itu dari diri kita yang lemah dan dari syaiton, kita memohon ampunan kepada-Nya.

Allohu a’lam bish showab..

ا لفا قر إ لي ا لله

أ بو هنيف

Nursidi Abu Hanif

'Maraji:

[1]Al Qur’anul Karim

[2]Tazkiyatun Nafs , Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, Ibnu Rajab Al Hambali

[3]Tazkiyatun Nufus wa tarbiyatuha kamaa yuqarriru ‘ulamaa’is salaf

[4]HR Ibnu Majah dalam Az zuhud II/1373, Riyadlush Sholihin no 475

[5]Hilyatul Auliyaa’ V/257.

 

Selesai ditulis 11 Dzul Qa’idah 1432 H (9 Oktober 2011 M) Ba’da Ashr @ Pesantren Mahasiswa Thaybah , Surabaya.

zp8497586rq

Posted by Nursidi

Filed under: Nasehat Comments Off
Comments (0) Trackbacks (0)

Sorry, the comment form is closed at this time.

Trackbacks are disabled.